Setelah menjalani proses yang cukup merepotkan, John Lie bersama awak kapal pembangkang dibebaskan. Mereka kembali bergerilya di laut Lagi-lagi usaha Belanda gagal.
Saat The Outlaw berangkat dari Port Swettenham ke Labuan Bilik, kapal perang Belanda sudah menunggu. Kedatangannya disambut tembakan meriam hingga kapal Belanda kehabisan peluru meriam. Lalu bagaimana nasib The Outlaw? Mengejutkan, kapal pembangkang ini lagi-lagi lolos. Keesokan harinya, The Outlaw yang sudah hampir kehabisan logistik berangkat ke Johor dekat Singapura.
Dalam masa sulit itu, seorang pria, Dr Saroso, menyampaikan cek senilai 5.000 Straits Dollar, mata uang yang dipakai di Singapura saat itu. Ternyata itu titipan dari Wakil Presiden Mohammad Hatta. Bersama cek itu, Hatta menitipkan pesan, ”Kiriman senjata dan peluru, semua sudah diterima dengan selamat.”
Perhatian Hatta membuat John Lie dan awak kapal bangga dan bersemangat. The Outlaw semakin terkenal dan tantangan yang mereka hadapi pun semakin besar. Sebab, Belanda kian memperketat pengawasan pelayaran Labuan Bilik-Malaya. John Lie lalu menerapkan taktik baru. Ia memindahkan operasi ke Tamiang, Rajaulak, pantai timur Aceh, pada bulan Mei 1948 hingga Januari 1949.
Dalam misi-misi berbahayanya, The Outlaw bersama John Lie kembali berkali-kali lolos dari maut dan gempuran Belanda. Salah satu misinya dari Phuket ke Aceh menjadi sangat dikenal. Kala itu, mereka harus memasok senjata dari Phuket di Siam, yang saat ini dikenal sebagai Thailand ke pantai timur Aceh. Saat berada di Phuket, wartawan Majalah Life, Roy Rowan mewawancarai John Lie dan awak kapalnya.