Muatan itu diserahkan kepada Bupati Usman Effendi dan komandan setempat, Abu Salam. The Outlaw juga memuat hasil bumi karet Sumatera di Labuan Bilik untuk dijual ke Malaya. Mereka berangkat kembali ke Port Swettenham seminggu kemudian. John Lie dan teman-temannya mendirikan pangkalan gelap untuk memasok kebutuhan logistik bahan bakar, senjata dan bahan pangan untuk kebutuhan revolusi Indonesia.
Dunia pun tercengang pada kesuksesan The Outlaw menembus blokade Belanda. Stasiun Radio BBC di London dalam pemberitaannya bahkan menjuluki kapal itu The Black Speedboat, laksana kapal hantu yang berhasil melintasi lautan. Pemberitaan ini ternyata membuat patroli Angkatan Laut Belanda yang berpangkalan di Pelabuhan Belawan memperketat penjagaan di Selat Malaka.
Usaha Belanda tak berdampak. Pada misi keempatnya di bulan Januari 1948, The Outlaw, si kapal pembangkang tetap lolos dari tembakan kapal Belanda. Saat itu, mereka membawa berton-ton lembaran karet mentah yang akan dijual ke Semenanjung Malaya.
The Outlaw sukses kembali ke Port Swettenham pukul 06.00. Belanda makin geram. Mereka akhirnya memprovokasi Inggris yang berkuasa di Malaya saat itu.
Tahun 1948, Inggris sedang memperketat gerak-gerik warga dan orang asing akibat pemberontakan Komunis di Semenanjung Malaya yang dikenal dengan Malaya Emergency. The Outlaw yang berulang kali bergerak dari Sumatra ke Malaya pun turut diperiksa.