“Bingung kenapa, Kanda?” tanya permaisuri.
Prabu Tapa Agung pun bercerita kepada permaisurinya bahwa dia bingung untuk memilih di antara dua putrinya, apakah Purbararang atau Purbasari yang akan menggantikan kedudukannya.
Menurut hukum adat yang berlaku di Kerajaan Pasir Batang, yang pantas untuk menggantikannya adalah Putri Purbararang, karena dia adalah putri tertua.
Namun, Prabu Tapa Agung menilai putri sulungnya itu belum pantas menjadi seorang ratu, karena sifatnya yang sombong, angkuh, dan licik. Putri Purbararang juga sering memutuskan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya terlebih dulu, sehingga menimbulkan kekacauan.
Sang Prabu lebih senang jika putri bungsunya, Purbasari, yang menggantikan kedudukannya, karena dia baik hati, arif, dan bijaksana. Dengan pertimbangan tersebut, sang Prabu dan permaisuri memutuskan untuk memilih Purbasari menjadi Ratu.
Di hadapan seluruh pembesar kerajaan dan juga ketujuh putrinya raja, Prabu Tapa Agung menyerahkan tahtanya kepada Purbasari. Prabu Tapa Agung lantas meninggalkan istana kerajaan untuk memulai hidup baru sebagai pertapa.