Andi: "Saya sudah coba, Bu, tapi tidak ada yang mau menerima saya."
Bu Ani merasa kasihan pada Andi. Ia memberikan sedikit uang kepada Andi.
Bu Ani: "Ini, Nak. Gunakan untuk membeli makanan."
Andi: "Terima kasih, Bu."
Andi pergi meninggalkan pasar. Bu Tuti dan Bu Ani kembali melanjutkan aktivitas mereka. Mereka menyadari bahwa masalah kemiskinan dan pengangguran masih menjadi masalah yang kompleks di masyarakat.
Taman kota yang tenang di sore hari ditemani dengan cahaya matahari sore menyinari daun-daun pohon beringin yang rindang. Alya duduk di bawah pohon beringin, membaca buku. Rendy datang menghampirinya sambil membawa segelas jus jeruk.
Rendy: "Permisi, boleh bergabung?"
Alya: (tersenyum) "Tentu saja."
Rendy: "Saya sering lihat kamu di sini. Kamu suka banget baca buku ya?"
Alya: "Iya, membaca adalah hobiku. Kamu suka baca juga?"
Rendy: "Dulu suka, tapi sekarang jarang. Lebih suka main gitar."
Mereka mulai mengobrol tentang berbagai hal. Ternyata, mereka memiliki banyak kesamaan minat. Hari demi hari, mereka semakin sering bertemu di taman itu. Perasaan mereka pun semakin dekat.
Beberapa bulan kemudian, Beni mengajak Alya kencan.
Rendy: "Alya, aku suka kamu. Mau jadi pacarku?"
Alya: (tersipu) "Aku juga suka kamu, Ren."
Mereka pun resmi berpacaran. Namun, hubungan mereka tidak selalu berjalan mulus. Mereka seringkali bertengkar karena masalah kecil.
Alya: "Aku merasa kamu akhir-akhir ini jarang meluangkan waktu untukku."
Rendy: "Maaf, Alya. Aku sedang sibuk dengan pekerjaan."
Meskipun sering bertengkar, mereka selalu berusaha untuk menyelesaikan masalah mereka. Cinta mereka semakin kuat seiring berjalannya waktu.