Zahra: “Si Danang nggak masuk lagi, ya?”
Azizah: “Iya, dia selalu absen kalau pas pelajarannya Bu Fatma.”
Nurul: “Kenapa bisa begitu?”
Azizah: “Masak kamu nggak tahu, sih?”
Nurul: “Nggak tahu. Emang kenapa?”
Zahra: “Coba deh tanya sama teman dekatnya.” Zahra menunjuk Fahri.
Fahri yang sadar dengan obrolan tersebut akhirnya ikut nimbrung. “Danang pernah kepergok ngempesin ban motor, eh nggak tahunya ternyata itu ban motor punya Ibu Fatma.”
Azizah: “Wah, gila. Parah banget kalau sampai kayak gitu.”
Nurul: “Aku nggak nyangka, ternyata Danang anaknya bandel banget.”
Keesokan harinya, Bu Fatma membagikan daftar kelompok untuk presentasi. Ternyata, Danang satu kelompok dengan Azizah, Nurul, Zahra, dan Fahri.
Azizah: “Yaahh…. Kita satu kelompok dengan Danang.”
Zahra: “Dia itu nggak mau tahu kalau ada tugas begini.”
Fahri: “Gini aja deh, nanti aku coba ke kosannya. Siapa tahu dia mau berubah.”
Nurul: “Oke, semoga dia mau ambil bagian buat ngerjain tugas.”
Malam harinya, Fahri datang ke kosnya Danang. Kedatangannya yang tanpa pemberitahuan membuat Danang sedikit terkejut.
Danang: “Eh, Fahri.”
Fahri: “Gimana, Nang? Kok nggak pernah masuk pas mata kuliahnya Bu Fatma?”