Amran: (Kesal) “Ah, kamu. Ada, ada setannya, tahu?”
Gunadi: (Ketakutan) “Aaah, Kak Amran. Jangan begitu ah…. Saya takut.” (Gunadi melihat ke kiri dan kanan).
(Di luar kilat memancar terang. Kemudian, petir menggelegar).
Gunadi: (Terkejut dan melompat) “Au, tolong, Kak!”
Amran: (Ke dekat adiknya) ”Ada apa, Gun?”
Gunadi: “Tidak apa-apa kak, saya hanya kaget saja. Tapi….(ragu-ragu) apakah Anhar tidak apa-apa, Kak?”
Amran: “Itulah. Kakak takut ia kehujanan. Akan kususul ia ke sana.”
Gunadi: “Jangan, kak. Saya takut tinggal sendiri di rumah.”
Amran: “Ayolah ikut, kita kunci saja rumah.”
Gunadi: “Tapi kak….tapi jalan ke sana gelap, saya tidak berani ikut.”
Amran: (Kesal dan bingung) “Habis bagaimana? Ditinggal tidak berani, diajak juga takut. Anhar kan harus dicari!” (Diam dan mendengar sesuatu). “Hah…suara apa itu?
Gunadi: (Mendekap Amran) “Kak, Kak…! Ada apa, Kak?”
(Pintu depan terbuka. Anhar berdiri memegang kail dan ikan kecil-kecil).
Anhar: (mengangkat ikannya) “Lihat, Kak. Lihat banyak, ya….”
Amran: (Tersenyum tapi agak kesal) “Kamu anak nakal. Ayo ke belakang sana. Membuat orang bingung.”