Menanti
(Panggung menggambarkan ruang depan. Di kanan, jendela kaca tertutup. Sebelah belakang, ada pintu menuju ruang dalam. Ada beberapa gambar tua dan jam dinding, sebuah meja dan beberapa kursi.
Pukul setengah delapan malam. Di luar angin kencang bertiup dan sekali-kali terlihat cahaya kilat). (Amran gelisah dan mondar-mandir, sekali-kali melihat jam).
Amran: (Bicara sendiri) “Sudah jam setengah delapan lewat. Ke mana perginya, Anhar?” (melihat ke pintu dalam).
Gunadi: (Masih di dalam) “Ya, Kak…” (keluar menemui Amran).
Amran: (Duduk) “Ke mana katanya, Anhar tadi?”
Gunadi: “Mau mancing ke tempat kita mendapat ikan besar dulu, Kak.”
Amran: “Kenapa kau bolehkan saja? Kalau ayah dan ibu tahu, tentu akan marah.” (Berdiri dan berjalan pelan) “Kau tahu, kau tahu itu bahaya?”
Gunadi: “Bahaya apa, Kak?”
Amran: (Berdiri di jendela) “Tempat itu ada penunggunya.”
Gunadi: “Ada yang jaga, Kak? Itu kan kali biasa, masa ada yang memilikinya. Siapa saja boleh mancing di situ, kan?”