Tetapi PT Freeport Indonesia menolak bekerja sama dengan OPM. OPM pun melakukan teror sejak 23 Juli sampai 7 September 1977. Mereka memotong jalur pipa slurry dan bahan bakar.
Kemudian, memutus kabel telepon dan listrik, membakar gudang, dan meledakkan bom di sejumlah fasilitas perusahaan. Freeport mengalami mencapai 123.871 Dolar AS.
Pada 1984, OPM melancarkan serangan ke Jayapura, ibu kota provinsi dan kota yang didominasi orang Indonesia non-Melanesia.
Serangan ini diredam militer Indonesia dengan aksi kontra-pemberontakanlebih besar. Kegagalan ini menciptakan eksodus pengungsi Papua yang diduga dibantu OPM ke kamp-kamp di Papua Nugini.
Pada 14 Februari 1986, Freeport Indonesia mendapatkan informasi bahwa OPM kembali aktif di daerah dan sejumlah karyawan Freeport adalah anggota atau simpatisan OPM. Pada 18 Februari 1986, sebuah surat yang ditandatangani pimpinan OPM yang memperingatkan pada Rabu 19 Februari, akan turun hujan di Tembagapura.