Perjuangan Kiai Amin Wujudkan Kemandirian Ekonomi Para Santri
Enam belas tahun lalu (2007), kompleks pondok pesantren Fathul Ulum masih berupa ladang tebu dan hutan bambu. Di tempat itulah Kiai Amin mendirikan bangunan pesantren dari angkringan kayu.
Semua serba terbatas. Bahkan, sambungan listrik pun harus mengambil dari rumah warga di perkampungan yang jaraknya hampir 1 kilometer.
Namun, saat ini semua telah berubah. Pesantren kecil itu kini memiliki banyak unit usaha dan infrastruktur ekonomi yang mapan, di antaranya laboratorium menjahit, bengkel, advertising, rumah sablon hingga tempat pembuatan booth. Selain itu terdapat 2,5 hektare lahan pertanian, 40 kolam ikan, peternakan kambing, sapi, bebek hingga tempat pembuatan pupuk organik.
Kiai Amin mengatakan, seluruh unit usaha tersebut dikelola secara mandiri oleh lembaga (pesantren). Semuanya tergabung dalam Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP).
“Jadi di pondok kami, semua usaha milik pondok. Tidak boleh kiai bikin usaha di dalam pondok. Usaha saya di luar. Bermitra dengan alumni pesantren atau masyarakat,” katanya.