Perjuangan Kiai Amin Wujudkan Kemandirian Ekonomi Para Santri
“Kalau pondok melakukan itu semua (membuka sekolah formal), maka yang banyak hanya intelektual. Sementara tafaqquh fiddinya (pemahaman ilmu agama) akan hilang,” katanya.
Karena itu, Kiai Amin tetap pada pendiriannya menerapkan sistem pendidikan salaf murni di Fathul Ulum. Solusinya, Kiai Amin menambahkan pendidikan skill kepada seluruh santri. Hal itu dilakukan sebagai upaya menjawab keraguan masyarakat tentang lulusan pesantren di dunia kerja.
“Jadi ada penjurusan sesuai passion masing-masing. Senang tani ya diajari bertani. Seneng menjahit ya menjahit. Macam-macam. Ada mulimedia, advertising hingga peternakan,” katanya.
Kiai Amin mengatakan, secara umum, pendidikan skill santri Fathul Ulum mirip dengan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK). Bedanya, di pesantren, waktunya lebih lama, terutama untuk pendidikan praktik. Sebab, santri tinggal di pondok.
Dia mencontohkan untuk mempelajari cara budi daya kambing, mengolah tanah primer dan skunder, para santri bisa menguasainya hanya dalam waktu enam bulan, karena santri langsung praktik. Sementara di sekolah formal kadang membutuhkan waktu hingga 3 tahun. Itu pun minim praktik.