Monumen Bandajoeda, Saksi Sejarah Perlawanan Sengit Rakyat Banyumas Lawan Tentara Belanda
Jalan raya antara Purwokerto-Ajibarang sampai perbatasan Bumiayu berjarak kurang lebih 40 km merupakan jalur yang terhitung sering dilalui kendaraan musuh. Sepanjang kanan-kiri jalan terdapat banyak tebing dan pegunungan, serta sedikit tempat terbuka sehingga sangat ideal dan strategis untuk melakukan pencegatan.
Pengadangan lainnya juga pernah dilakukan di jalur ini. Dengan seluruh kekuatan dari desa Kesegeran berangkat mengadakan pencegatan di tiga tempat sekaligus. Ketika konvoi Belanda yang berkekuatan tiga truk tepat di hadapan stelling Darjoen, satu truk diloloskan untuk jatah pasukan yang ada di Pageraji, sedangkan yang dua truk lainnya langsung disergap.
Pertempuran berlangsung hingga pukul 09.00 WIB, 10 orang musuh dapat dibunuh, dan merampas senjata dan menghancurkan truk-truk. Karena Belanda penasaran dan memiliki komunikasi yang lancar, beberapa saat kemudian datang bantuan mengendarai bren carrier.
Desa Karanggude dibakar Belanda dan banyak rakyat yang ditembaki. Karena pasukan Indonesia tidak memiliki senjata penghancur kendaraan lapis baja, maka pasukan kembali ke desa Kesegeran.
Selain pengadangan di jalur Purwokerto -Ajibarang, jalan kereta api juga dianggap vital oleh kedua pihak, di beberapa tempat pernah dibongkar oleh para gerilyawan bersama -sama rakyat setempat. Setelah berlakunya perjanjian Renville oleh Belanda dapat diperbaiki lagi hingga berfungsi sampai ke wilayah Bumiayu.