Monumen Bandajoeda, Saksi Sejarah Perlawanan Sengit Rakyat Banyumas Lawan Tentara Belanda
Pada sekitar pukul 09.00 WIB kereta api dengan masinis Pak Koeswadi betul-betul lewat. Sesuai dengan kode yang disepakati, dari jauh Pak Koeswadi sudah membunyikan suling kereta api dengan bunyi yang menunjukkan jumlah gerbong yang berisi pasukan.
Setelah sampai pada tempat sasaran, kereta api diberhentikan, karena ada gundukan batu yang disangka bom oleh Belanda. Kurang lebih satu regu pasukan Belanda yang mengawal kereta api di muka lokomotif, dalam gerbong terbuka yang dikelilingi pasir dalam karung, pasukan Belanda turun untuk memeriksa tumpukan batu tersebut.
Pada waktu membongkar batu dan membuka karung, lebah penyengat keluar berhamburan dan menyengat mereka. Dalam situasi yang konyol, serdadu Belanda langsung disergap oleh pasukan Poedjadi yang sudah siap, hingga terjadilah pertempuran seru. Masinis Koeswadi ditembaki tetapi sengaja tidak dikenakan, sedangkan gerbong kereta api ditembaki terus menerus.
Menghadapi situasi ini, maka kereta api mundur, sedangkan pasukan pengawal tertinggal karena dihujani tembakan. Akhirnya pasuka Poedjadi dapat menahan hidup empat orang dan menembak mati lima orang Belanda, merampas lima senjata jenis LE dan satu pucuk senjata bren.
Hari berikutnya, Senin Wage setelah pertempuran di Panembangan, pasukan Poedjadi berangkat menuju Desa Gunung Lurah sebelah timur Panembangan dan menempatkan diri di sana. Pada siang hari, pasukan Belanda kurang lebih dua regu yang bermarkas di grumbul Damaraja berpatroli ke Desa Gunung Lurah.