Monumen Bandajoeda, Saksi Sejarah Perlawanan Sengit Rakyat Banyumas Lawan Tentara Belanda
Pertempuran tersebut menyebabkan banyak korban dari tentara Belanda dan hanya beberapa gelintir yang bisa menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian datang bantuan musuh berupa satu pesawat capung dan dua pesawat pemburu (cocor merah) melaksanakan serangan udara.
Pada malam harinya, karena belum puas dengan serangan udara, mulai dari pukul 19.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB, desa tersebut dihujani peluru canon dari arah Purwokerto, mengakibatkan korban rumah-rumah penduduk hancur, bahkan seorang nenek terkena pecahan peluru canon, beberapa orang lainnya luka ringan. Untuk mengenang peristiwa ini di desa Gunung Lurah Lurah dibuat tugu peringatan.
Rakyat Banyumas pantas berbangga, karena lahir dari generasi yang secara turun-temurun memiliki tradisi keprajuritan. Secara jelas, sosok sosok pejuang tersebut seperti Jenderal Besar Soedirman, Gatot Soebroto, Soerono, Mr. Iskak Tjokroadisoerjo, Brotosiswojo, Poedjadi, Koesworo, Hardojo, Sajono dan sosok lain yang telah mengharumkan nama Banyumas.
Maka jangan pernah bertanya apakah rakyat Banyumas berjuang? Tampaknya jiwa dan semangat berkorban, jiwa semangat satria yang luhur, semangat jiwa berjuang yang patriotik dan heroik bukanlah sesuatu yang baru tertanam dalam diri bangsa Indonesia, dalam diri rakyat Banyumas khususnya. Tapi jauh sebelum Proklamasi Republik Indonesia dikumandangkan.
Editor: Ahmad Antoni