Monumen Bandajoeda, Saksi Sejarah Perlawanan Sengit Rakyat Banyumas Lawan Tentara Belanda
Memang setiap beberapa hari sekali, Belanda selalu melakukan patroli keliling ke beberapa wilayah. Sejak dikuasainya Kota Purwokerto oleh Belanda, hampir semua pejuang dan pemerintahan kala itu bergeser ke utara Kota Purwokerto atau sekitar lereng kaki Gunung Slamet termasuk Desa Gunung Lurah.
Ketika itu, seorang petani yang tengah berada di sawah melihat ada banyak tentara Belanda yang tengah melintas jembatan gantung di selatan jalan kereta api menuju Gunung Lurah. Petani lari pulang untuk melaporkan kepada tentara Indonesia yang tengah mencuci pakaian di sungai dan sarapan, petani tersebut mengatakan jika ada Belanda mau masuk Gunung Lurah.
Mendapatkan laporan tersebut, para pejuang yang berada di Gunung Lurah kemudian bersiap untuk menyambut kedatangan dua regu pasukan Belanda yang sedang berpatroli. Seluruh pasukan yang dipimpin oleh Komandan Kompi Poedjadi kemudian bersiap menyergap pasukan Belanda ditengah sawah.
Tentara Indonesia siap dengan formasi tapel kuda, disergap seperti ikan yang mau di jaring. Belanda terus masuk ke Gunung Lurah, tapi tentara Indonesia diam dan tidak membunyikan apa-apa, hingga Belanda masuk perangkap. Belanda terkejut karena diserang. Mendapatkan serangan mendadak tersebut, Belanda berulang kali meminta bantuan.
Pertempuran berlangsung seharian hingga sekitar pukul 16.00 WIB, namun pasukan Belanda tidak bisa memasuki Desa Gunung Lurah, mereka terus ditembaki oleh tentara Indonesia.