Cerita Penumpasan Antek PKI di Jawa Tengah dan Strategi Brigjen TNI Surjo Sumpeno
Pangdam juga memerintahkan jajaran pasukannya untuk mengadakan unjuk kekuatan dengan defile pasukan, panser dan artileri berat di daerah-daerah.
Lalu Brigjen Surjo Sumpeno memerintahkan Kasdam VII/Diponegoro Kol Inf Sudjono untuk menempatkan beberapa kendaraan lapis baja di tempat-tempat yang strategis dengan posisi siap tembak di Salatiga dan didukung pasukan para dan artileri berat. Ini ditujukan untuk menakut nakuti pasukan pro PKI pimpinan Letkol Idris yang sebelumnya telah menawan Danrem 073/Salatiga Kol Sukardi.
Merasa takut akibat pameran kekuatan yang dilancarkan oleh Kasdam VII/Diponegoro Kol Inf Sudjono. Sehingga Letkol Idris pemimpin Gerakan 30 September di Salatiga menyerah tanpa syarat.
Pembersihan Pasukan terhadap pasukan yang pro PKI di Yogyakarta juga dilakukan. Namun pembersihan terhadap antek PKI mendapat kendala, karena Pangdam mendapat kabar jika Danrem 072/Pamungkas Kol Inf Katamso dan Kasrem 072 Letkol Soegijono ditangkap oleh sejumlah pasukan Yon L (Yon 451) yang bermarkas di wilayah Kentungan.
Pasukan Yon L ini digerakan Mayor Mulyono salah seorang staf Korem 072 yang mengangkat dirinya sebagai Ketua Dewan Revolusi Yogyakarta pada 1 Oktober 1965.