Cerita Penumpasan Antek PKI di Jawa Tengah dan Strategi Brigjen TNI Surjo Sumpeno
Untuk menguasai Markas Kodam, pimpinan Pasukan pro-PKI kemudian menggerakan dua kompi dari Batalyon K dan dua kompi dari Batalyon P yang didatangkan dari Salatiga. Kedua Kompi pasukan infanteri pemukul ini dikerahkan untuk mengepung Markas Kodam VII/Diponegoro.
Namun Panglima Kodam VII/Diponegoro yang saat itu dijabat Brigjen TNI Surjo Sumpeno tidak tinggal diam.
Sebagai pucuk pimpinan tertinggi di Kodam Diponegoro pada 2 Oktober 1965 pukul 02.00 WIB, Brigjen TNI Surjo Sumpeno langsung memerintahkan Kol Inf Sahirman untuk segera datang menghadap ke rumah dinasnya. Namun Sahirman menolak perintah tersebut dan tetap memerintahkan Pasukan Batalyon K dan Batalyon P untuk merebut Markas Kodam VII/Diponegoro.
Di buku Menyeberangi Sungai Air Mata: Kisah Tragis Tapol '65 dan Upaya Rekonsiliasi, Brigjen TNI Surjo Sumpeno diberi saran oleh staf Kodam yang masih loyal kepadanya yang datang kekediamannya untuk segera meninggalkan rumah dinasnya karena adanya informasi pergerakan pasukan infanteri yang menuju kediamannya.
Dalam pertemuan itu hadir Letnan Kolonel Usman yang membuat Brigjen Suryo sempat berpikir sejenak. Karena tidak seperti biasanya, Letkol Usman saat itu membawa pistol di pinggangnya.