Setelah mendapatkan data intelijen yang cukup akurat, pihaknya mendapat informasi bahwa perompak itu kembali ke markasnya, ke salah satu camp-nya di El-Dhanan, Pantai Ceel Dhahanaan. Di wilayah itu ada perkampungan perompak dengan kekuatan sekitar 1.000 orang.
"Itu campuran tentunya kan ada pasukannya, ada mungkin pendukungnya, semua ada di situ. Kalau kita lihat dari foto udara, itu memang perkampungan dengan perlengkapan yang lengkap. Ada perahu-perahu cepat dengan perlengkapan galah untuk naik ke kapal-kapal yang menjadi sasaran termasuk persenjataannya yang bervariasi tetapi cukup kalau untuk menyerang karena ada senapan mesin, macam-macam, lengkap, ada roket launcher itu, ada semuanya," katanya.
Pasukan TNI juga mendapat data intelijen banyak camp-camp lain dengan kapal-kapal bajakan dari negara lain yang bahkan diperkirakan ada yang sudah lebih dari setahun tidak dibebaskan. Ketika pasukan TNI ke sana, ternyata Kapal MV Sinar Kudus bergerak lagi ke arah camp yang berada di sebelah utaranya.
"Namanya camp L. Nah, di situlah kami melakukan aksi pembebasan itu," katanya.
Mayjen Suhartono mengatakan, modus operandi perompak Somalia sesuai data yang didapatkan dari data intelijen dari satuan lain dari negara lain yang juga di sana. Kalau mereka sudah dibebaskan, mereka bisa jadi diserang oleh perompak lain.
"Karena perompak di sana, tidak hanya satu kelompok, banyak perompak itu. Jadi, itu yang terjadi, kapal ini juga menjadi target dari perompak-perompak lain," katanya.