"Berangkat duluan, kemudian mereka sampai ke Pelabuhan di Srilanka. Selanjutnya, saat mereka KRI ini berangkat, ini pasukan kan masih ada di sini, kita persiapan-persiapan latihan-latihan dasar latihan-latihan taktik yang akan kita gunakan di sana, tetapi juga silence sekali," katanya.
Suhartono mengatakan, saat itu memang pemerintah seolah-olah tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan ABK Kapal MV Sinar Kudus yang disandera. Padahal, TNI sudah melaksanakan kegiatan persiapan.
"Setelah kira-kira mendekati Srilanka, KRI kita menggunakan pesawat TNI AU di-drop di sana, langsung sampai bandara, langsung kita menuju KRI. Di sana juga sangat silence, tidak termonitor kemudian baru kita ke daerah operasi untuk mencari di mana posisi dari MV Sinar Kudus tadi itu," katanya.
Dengan mempertimbangkan data-data intelijen, pasukan akhirnya ke perairan Somalia. Namun, mereka masih menemukan kendala mencari posisi kapal karena lautan yang begitu luas. Apalagi, Kapal MV Sinar Kudus juga terus bergerak.
"Mereka dibajak oleh pembajak itu dan digunakan untuk membajak kapal lain. Jadi mereka menggunakan taktik itu. Karena apa, begitu mereka menggunakan kapal niaga, kapal-kapal niaga yang lain kan tidak curiga. Mereka selalu moving di laut itu, bergerak," katanya.