Mereka pun meramu kecepatan ala thrash atau crossover. Begitupun dengan ritme yang bertumpu pada groove mid-tempo yang dipopulerkan Sepultura pascaalbum Chaos AD (Refuse/Resist) dan Roots.
"Lega akhirnya setelah hampir dua tahun tertahan akibat pandemi, kami berhasil membangun dan merilis album perdana. Ini hasil upaya dan kerja keras kami dan dukungan komunitas punk Bandung hingga album perdana ini rilis," kata vokalis Tibiast, Radit.
Menurut dia, album "Melawan Massa" merupakan debut album mereka yang penuh dengan pengaruh Sepultura, Machine Head era awal hingga Brujeria. Hal itu tampak pada komposisi berderu yang menghasilkan tempo kencang thrashy pada lagu “Serdadu Anak Bangsa”, “Smoke Bomb” dan “Kera Jelaga”, lagu anthemik seperti “Bad Social” dan “Melawan Masa”.
"Melawan Massa, menunjukkan betapa sulitnya di masa pandemi. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. Ada harapan semua bisa kembali membaik, berjuang, dan selalu positif. Album ini berisi kritik sosial tentang stop kerusakan alam, ketidakadilan sosial, korupsi, dan lainnya," ujarnya.
Yang menarik, grup band ini tak angkuh dengan kemampuan mereka sendiri. Mereka hadir berkolaborasi dengan unit hip hop Eyefeelsix, hingga track atmosferik yang memberikan kanvas sonik bagi rapalan Budi Dalton.
Lewat kolaborasi ini, Tibiast mengantarkan cerita, kritik, seruan di depan penghancuran ekologi, deforestasi, tatanan sosial dengan segala penyakit uzurnya seperti rasisme dan pemerintahan yang korup.
Dari 11 lagu pada album ini, mereka pun mendatangkan vokal dari Popo (Demons Damn), Lord Butche (The Cruel) dan Bobby (Turbidity), juga lead gitar dari Lucas and Sons. Dirilis dalam format CD berisikan 11 lagu, dan 1 bonus track, dengan artwork sampul album dari Anzi Matta.