Sekretaris Jenderal Partai Golkar tersebut menilai meredanya risiko geopolitik dapat membuat biaya impor minyak dan gas menjadi lebih efisien. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan biaya produksi dalam negeri sekaligus mengurangi tekanan inflasi.
"Pembukaan penuh Selat Hormuz harus segera dimanfaatkan untuk memperlancar rantai pasok ekspor-impor yang selama berbulan-bulan terganggu, sekaligus memangkas biaya logistik internasional yang membebani pelaku usaha," lanjut dia.
Sarmuji juga mendorong pemerintah memanfaatkan situasi yang lebih kondusif untuk meningkatkan ekspor nonmigas ke kawasan Timur Tengah dan negara-negara yang terdampak konflik. Menurutnya, Indonesia perlu menghidupkan kembali sejumlah kesepakatan dagang yang sempat tertunda, termasuk dengan Iran di sektor pertanian dan manufaktur.
Lebih jauh, dia menilai krisis di Selat Hormuz selama konflik berlangsung harus menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
"Perdamaian ini tidak menghapus kerentanan itu. Justru sekarang, dalam situasi lebih tenang, adalah waktu yang tepat untuk membangun ketahanan yang sesungguhnya," ungkap Sarmuji.