Amunisi, Daya Tahan, dan Nyali: 3 Ujian di Balik Pertumbuhan 5,61%

iNews
Dr. Ariyo DP Irhamna, Pengajar Universitas Paramadina (Foto: Istimewa)

Kedua, subsidi dan kompensasi Triwulan I-2026 mencapai Rp118,7 triliun, hampir empat kali lipat dibanding realisasi Rp32,4 triliun pada Triwulan I-2025. Padahal, pagu APBN setahun penuh hanya Rp266,5 triliun. Dengan harga Brent sekitar 108 dolar Amerika Serikat per barel, jauh di atas asumsi APBN 70 dolar AS per barel dan rupiah melemah lebih dari asumsi APBN 6,7%, realisasi setahun penuh berisiko melampaui pagu.

Ketiga, rupiah menembus Rp17.605 per dolar AS pada 16 Mei 2026, melampaui asumsi APBN. Cadangan devisa juga turun tiga bulan berturut-turut, dari 151,9 miliar dolar AS pada akhir Februari menjadi 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret. Setiap pelemahan rupiah 1% menambah nilai utang luar negeri pemerintah dalam rupiah sekitar Rp35 triliun.

Keempat, depresiasi rupiah menggerus PDB per kapita Indonesia dalam dolar AS. Perkiraan PDB nominal 2026 sekitar Rp25.780 triliun (dihitung dari Q1 sebesar Rp6.187,2 triliun dengan asumsi kontribusi Q1 sebesar 24%), dibagi populasi 282 juta menghasilkan PDB per kapita Rp91,4 juta. Pada kurs APBN Rp16.500 per dolar AS, nilainya setara 5.540 dolar AS. Namun pada kurs Rp17.605, nilainya turun menjadi sekitar 5.190 dolar AS.

Selisih 350 dolar AS per kapita tersebut hilang bukan karena Indonesia memproduksi lebih sedikit, melainkan karena rupiah terdepresiasi. Setiap pelemahan rupiah 1% mengurangi PDB per kapita sekitar 52 dolar AS, setara pertumbuhan riil per kapita selama setahun. Untuk mencapai status negara berpenghasilan tinggi (ambang Bank Dunia sekitar 14.005 dolar AS), sebagaimana visi Indonesia Emas 2045, depresiasi rupiah secara mekanis justru menjauhkan target tersebut.

Kelima, surplus perdagangan menyusut meski rupiah terus melemah. BPS dalam Berita Resmi Statistik Maret 2026 mencatat surplus dagang Januari–Maret 2026 sebesar USD5,55 miliar, turun dari 10,91 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun 2025. Pemburukan 5,37 miliar dolar AS itu sebesar 95,5% berasal dari penyusutan surplus nonmigas, sementara hanya 4,5% berasal dari pelebaran defisit migas. Artinya, persoalan utamanya adalah ekspor nonmigas yang tidak tumbuh secepat impor.

Sektor industri pengolahan tumbuh 3,96% YoY, ditopang nikel dan turunannya yang melonjak 60,60% atau 1,23 miliar dolar AS. Sebaliknya, sektor pertambangan turun 11,17% karena batubara melemah 8,35%, sedangkan pertanian turun 32,18% akibat anjloknya ekspor kopi.

Dekomposisi harga dan volume menunjukkan pola yang khas. Nilai ekspor nikel naik 60,60%, sementara harga global hanya naik 12,8%, sehingga volume diperkirakan meningkat sekitar 42%, dampak nyata hilirisasi. Sebaliknya, nilai ekspor batubara turun 8,35% padahal harga global naik, yang berarti volume ekspor diperkirakan turun 20–26%. Hal ini konsisten dengan penurunan impor batubara Tiongkok dari Indonesia sebesar 12,26% sepanjang 2025. Indonesia kini bertumpu pada hilirisasi nikel, sambil kehilangan volume di batubara, pertanian, dan migas.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
Nasional
1 hari lalu

Komisi XI DPR Cecar BI soal Rupiah Melemah di tengah Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Nasional
7 hari lalu

Purbaya Janji Selesaikan Hambatan Investasi, Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Bisnis
8 hari lalu

BRI Perkuat Pertumbuhan Berkelanjutan, Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusif

Nasional
9 hari lalu

Purbaya Respons Kritik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen: Jelek-Tinggi Ribut, Maunya Apa?

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal