Amunisi, Daya Tahan, dan Nyali: 3 Ujian di Balik Pertumbuhan 5,61%

iNews
Dr. Ariyo DP Irhamna, Pengajar Universitas Paramadina (Foto: Istimewa)

Dr. Ariyo DP Irhamna
Pengajar Universitas Paramadina

TULISAN Anggito Abimanyu, “Ketika Angka Pertumbuhan Ekonomi Dipertanyakan”, mengangkat pertanyaan penting. Beliau menyebut pertumbuhan PDB Triwulan I-2026 sebesar 5,61% sebagai overshooting growth yang ditopang stimulus fiskal, momentum Ramadan-Idulfitri, THR, perluasan subsidi, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Anggito juga menanggapi kritik INDEF, LPEM FEB UI, dan CELIOS, serta mengakui ketiganya menggunakan data resmi BPS dalam analisis mereka. Namun, tanggapan beliau lebih menyoroti perlunya transparansi metodologi BPS, padahal substansi kritik ketiga lembaga tersebut berada pada kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan. Beberapa hal perlu diluruskan, dan beberapa lainnya justru lebih serius daripada yang beliau angkat.

Pertama, soal inventori, kerangka perbandingannya keliru.

Pak Anggito menulis perubahan inventori melonjak “dari sekitar Rp4 triliun menjadi lebih dari Rp100 triliun hanya dalam satu tahun”. Padahal, data BPS (Tabel 4) menunjukkan bahwa dalam harga konstan, perubahan inventori Triwulan I-2025 sebesar Rp85,2 triliun, Triwulan IV-2025 Rp4,2 triliun, dan Triwulan I-2026 Rp104,0 triliun. Angka “Rp4 triliun ke Rp100 triliun” hanya cocok bila membandingkan Triwulan IV-2025 dengan Triwulan I-2026, yakni satu kuartal, bukan satu tahun. Perbandingan tahunan yang tepat adalah Rp85,2 triliun ke Rp104,0 triliun, atau naik sekitar 22%.

Lonjakan inventori dalam satu kuartal tidak otomatis berarti demand weakness. Inventori bisa naik karena persiapan stok menjelang Ramadan-Idulfitri April 2026, ekspektasi permintaan, atau impor antisipatif. Tanpa data komplemen seperti penjualan ritel dan utilisasi kapasitas, lonjakan ke Rp104,0 triliun terlalu cepat disimpulkan sebagai pelemahan permintaan. BPS sendiri mencatat nilai tertinggi perubahan inventori sejak 2000 terjadi pada Triwulan III-2024 sebesar Rp106,9 triliun. Artinya, Triwulan I bukan periode yang secara historis menjadi puncak inventori.

Kedua, soal kontradiksi listrik dan manufaktur.

Pak Anggito mempertanyakan mengapa sektor pengadaan listrik dan gas terkontraksi 0,99%, sementara manufaktur tumbuh 5,04%. Data PLN dalam APBN Kita Maret 2026 menunjukkan volume penjualan listrik ke industri naik 6,6%, bisnis 3,7%, dan total 2,1%. Hanya konsumsi rumah tangga yang turun 2,6%. Secara fisik, aktivitas industri justru ekspansif.

Penjelasannya terletak pada base effect diskon tarif listrik 50% di Triwulan I-2025 yang mendorong konsumsi rumah tangga pada periode pembanding. Begitu diskon dicabut pada Triwulan I-2026, konsumsi rumah tangga kembali ke pola normal. Dengan demikian, kontradiksi yang dianggap janggal tersebut hanyalah sisa kebijakan harga 2025, bukan inkonsistensi data BPS.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
Nasional
1 hari lalu

Komisi XI DPR Cecar BI soal Rupiah Melemah di tengah Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Nasional
7 hari lalu

Purbaya Janji Selesaikan Hambatan Investasi, Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Bisnis
8 hari lalu

BRI Perkuat Pertumbuhan Berkelanjutan, Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusif

Nasional
9 hari lalu

Purbaya Respons Kritik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen: Jelek-Tinggi Ribut, Maunya Apa?

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal