Amunisi, Daya Tahan, dan Nyali: 3 Ujian di Balik Pertumbuhan 5,61%
Penjelasannya terletak pada base effect diskon tarif listrik 50% di Triwulan I-2025 yang mendorong konsumsi rumah tangga pada periode pembanding. Begitu diskon dicabut pada Triwulan I-2026, konsumsi rumah tangga kembali ke pola normal. Dengan demikian, kontradiksi yang dianggap janggal tersebut hanyalah sisa kebijakan harga 2025, bukan inkonsistensi data BPS.
Ketiga, underlying growth Triwulan I-2026 sebenarnya lebih lemah dari headline.
Konsumsi pemerintah tumbuh 21,81% YoY dan menyumbang 1,26 poin persentase terhadap headline growth, hampir seperempat dari angka 5,61%. Akselerasi belanja tentu merupakan pilihan kebijakan yang sah. Namun, pertanyaan analitisnya terletak pada keberlanjutan. Bila kontribusi konsumsi pemerintah menyusut ke kisaran 0,3–0,5 poin persentase ketika ruang fiskal makin sempit, ditunjukkan oleh defisit primer Triwulan I yang melampaui pagu tahunan, maka headline growth bergerak ke kisaran 4,7–4,9%.
Dengan koreksi 0,2 poin persentase untuk efek deflator akibat hilangnya diskon listrik 2025 dan 0,1 poin persentase untuk base effect pajak dari normalisasi Coretax, underlying growth Triwulan I-2026 berada di kisaran 4,4–4,6%.
Secara kuartal ke kuartal, ekonomi Triwulan I-2026 juga terkontraksi 0,77%. Pertumbuhan tahunan yang tinggi terutama disebabkan basis Triwulan I-2025 yang rendah, ketika konsumsi pemerintah terkontraksi 1,22% YoY. Karena itu, membaca angka 5,61% sebagai sinyal momentum penguatan ekonomi menjadi keliru. Momentum sebenarnya melambat, hanya saja basis tahun sebelumnya luar biasa lemah.
Keempat, kontradiksi yang lebih serius justru terjadi antara PMI dan PDB manufaktur.