Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Komisi XI DPR Cecar BI soal Rupiah Melemah di tengah Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
Advertisement . Scroll to see content

Amunisi, Daya Tahan, dan Nyali: 3 Ujian di Balik Pertumbuhan 5,61%

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:27:00 WIB
Amunisi, Daya Tahan, dan Nyali: 3 Ujian di Balik Pertumbuhan 5,61%
Dr. Ariyo DP Irhamna, Pengajar Universitas Paramadina (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

Penjelasannya terletak pada base effect diskon tarif listrik 50% di Triwulan I-2025 yang mendorong konsumsi rumah tangga pada periode pembanding. Begitu diskon dicabut pada Triwulan I-2026, konsumsi rumah tangga kembali ke pola normal. Dengan demikian, kontradiksi yang dianggap janggal tersebut hanyalah sisa kebijakan harga 2025, bukan inkonsistensi data BPS.

Ketiga, underlying growth Triwulan I-2026 sebenarnya lebih lemah dari headline.

Konsumsi pemerintah tumbuh 21,81% YoY dan menyumbang 1,26 poin persentase terhadap headline growth, hampir seperempat dari angka 5,61%. Akselerasi belanja tentu merupakan pilihan kebijakan yang sah. Namun, pertanyaan analitisnya terletak pada keberlanjutan. Bila kontribusi konsumsi pemerintah menyusut ke kisaran 0,3–0,5 poin persentase ketika ruang fiskal makin sempit, ditunjukkan oleh defisit primer Triwulan I yang melampaui pagu tahunan, maka headline growth bergerak ke kisaran 4,7–4,9%.

Dengan koreksi 0,2 poin persentase untuk efek deflator akibat hilangnya diskon listrik 2025 dan 0,1 poin persentase untuk base effect pajak dari normalisasi Coretax, underlying growth Triwulan I-2026 berada di kisaran 4,4–4,6%.

Secara kuartal ke kuartal, ekonomi Triwulan I-2026 juga terkontraksi 0,77%. Pertumbuhan tahunan yang tinggi terutama disebabkan basis Triwulan I-2025 yang rendah, ketika konsumsi pemerintah terkontraksi 1,22% YoY. Karena itu, membaca angka 5,61% sebagai sinyal momentum penguatan ekonomi menjadi keliru. Momentum sebenarnya melambat, hanya saja basis tahun sebelumnya luar biasa lemah.

Keempat, kontradiksi yang lebih serius justru terjadi antara PMI dan PDB manufaktur.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut