Ketiga, underlying growth Triwulan I-2026 sebenarnya lebih lemah dari headline.
Konsumsi pemerintah tumbuh 21,81% YoY dan menyumbang 1,26 poin persentase terhadap headline growth, hampir seperempat dari angka 5,61%. Akselerasi belanja tentu merupakan pilihan kebijakan yang sah. Namun, pertanyaan analitisnya terletak pada keberlanjutan. Bila kontribusi konsumsi pemerintah menyusut ke kisaran 0,3–0,5 poin persentase ketika ruang fiskal makin sempit, ditunjukkan oleh defisit primer Triwulan I yang melampaui pagu tahunan, maka headline growth bergerak ke kisaran 4,7–4,9%.
Dengan koreksi 0,2 poin persentase untuk efek deflator akibat hilangnya diskon listrik 2025 dan 0,1 poin persentase untuk base effect pajak dari normalisasi Coretax, underlying growth Triwulan I-2026 berada di kisaran 4,4–4,6%.
Secara kuartal ke kuartal, ekonomi Triwulan I-2026 juga terkontraksi 0,77%. Pertumbuhan tahunan yang tinggi terutama disebabkan basis Triwulan I-2025 yang rendah, ketika konsumsi pemerintah terkontraksi 1,22% YoY. Karena itu, membaca angka 5,61% sebagai sinyal momentum penguatan ekonomi menjadi keliru. Momentum sebenarnya melambat, hanya saja basis tahun sebelumnya luar biasa lemah.
Keempat, kontradiksi yang lebih serius justru terjadi antara PMI dan PDB manufaktur.
PDB manufaktur Triwulan I-2026 tumbuh 5,04%, tetapi PMI Manufaktur April 2026 berada di level 49,1 masuk zona kontraksi. PMI di bawah 50 berarti para manajer pembelian melaporkan penurunan aktivitas. Ini bukan persoalan akuntansi, melainkan indikator riil bahwa kondisi terkini sudah berbalik dibanding pertumbuhan Triwulan I. Jika Pak Anggito serius mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan, argumen ini justru paling kuat mendukung tesisnya, tetapi beliau melewatkannya.
Kelima, ongkos pertumbuhan.
Pertama, keseimbangan primer berbalik dari surplus Rp21,9 triliun pada Triwulan I-2025 menjadi defisit Rp95,8 triliun pada Triwulan I-2026, atau terjadi swing negatif Rp117,7 triliun dalam satu kuartal. Pola pemburukannya juga tidak linear. Defisit primer per 31 Januari 2026 masih Rp4,2 triliun, tetapi per 31 Maret sudah mencapai Rp95,8 triliun. Artinya, Februari dan Maret menambah defisit Rp91,6 triliun, didorong akselerasi MBG, THR Rp51,6 triliun, dan bantuan pangan Rp13,37 triliun.
Pembayaran bunga utang Triwulan I-2026 sekitar Rp144,3 triliun, naik 18,6% YoY dibanding Rp121,7 triliun pada Triwulan I-2025. Angka ini dihitung dari selisih defisit anggaran dan defisit primer dalam APBN Kita April 2026. Sebagai konteks, realisasi setahun penuh 2024 mencapai Rp488,4 triliun atau 14,5% total belanja negara berdasarkan Statistik Keuangan Pemerintah Pusat Bank Indonesia (Tabel IV.2, publikasi terbaru BI).
Defisit primer Triwulan I-2026 sebesar Rp95,8 triliun bahkan sudah mencapai 106,8% dari pagu defisit primer setahun penuh APBN 2026 sebesar Rp89,7 triliun. Tiga kuartal tersisa praktis harus dibiayai sepenuhnya melalui utang baru, sementara bunga utang yang tumbuh 18,6% YoY akan terus mengikis pendapatan negara pada kuartal-kuartal mendatang.