Selama lebih dari empat dekade, Teheran menyebut Israel sebagai "setan kecil" dan secara terbuka menyerukan kehancurannya.
UEA menjadi negara yang paling banyak diserang, dengan total 2.156 serangan. Sebanyak 11 warga dilaporkan tewas, termasuk dua orang yang meninggal akibat tertimpa puing rudal yang berhasil dicegat pada Kamis.
Arab Saudi sejauh ini menghadapi 723 serangan drone dan rudal, dengan dua korban jiwa dan sejumlah korban luka. Sebagian besar serangan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara negara-negara GCC. Selain serangan sporadis drone oleh kelompok Houthi di Yaman, ini merupakan ujian nyata pertama bagi sistem pertahanan kawasan dan sejauh ini dinilai berhasil.
Namun, yang memicu kemarahan pemerintah di kawasan Timur Tengah adalah tujuan di balik serangan yang terus berlangsung.
Direktur Council for Arab-British Understanding, Chris Doyle, menilai klaim Iran yang hanya menyasar target militer tidak dapat dipercaya.
"Sangat jelas bahwa Iran menargetkan bagian penting dari infrastruktur sipil. Jadi klaim itu tidak kredibel," ujar Chris Doyle, dilansir dari Arab News, Jumat (27/3/2026).
Menurut Doyle, tujuan utama Iran adalah bertahan dalam perang yang mereka anggap sebagai perang eksistensi. Mereka ingin sebisa mungkin membuat AS menderita. Dengan keterbatasan kemampuan konvensional dibandingkan AS dan Israel, Iran berupaya memperluas front konflik.
"Iran membuka medan perang yang sangat luas untuk memaksa AS dan sekutunya melindungi berbagai target di 12 negara sekaligus, sekaligus menimbulkan biaya ekonomi," katanya.
Menurut Doyle, strategi itu bertujuan untuk menekan AS agar lebih cepat mencari jalan keluar dan memaksa kembali ke meja perundingan. Dia juga menilai tidak kebetulan jika UEA menjadi target utama.
"Masuk akal jika sebagian alasannya itu karena kedekatan UEA dengan Israel, normalisasi hubungan, serta keterkaitan yang semakin dalam. Iran melihatnya sebagai target yang lebih diwaspadai dibanding negara Teluk lain yang belum ditargetkan pada tingkat sama," ujarnya.