Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pesawat Militer AS Mobilisasi Pasukan Terjun Payung ke Timur Tengah, Sinyal Serangan Darat ke Iran Menguat
Advertisement . Scroll to see content

83% Serangan Rudal dan Drone Iran Justru Hantam Negara Teluk, Apa Motif Sebenarnya?

Jumat, 27 Maret 2026 - 18:21:00 WIB
83% Serangan Rudal dan Drone Iran Justru Hantam Negara Teluk, Apa Motif Sebenarnya?
Sejak 28 Februari, negara-negara GCC telah menerima 4.391 serangan rudal dan drone Iran. Ini setara 83 persen dari total serangan. (Foto: Ilustrasi/AP)
Advertisement . Scroll to see content

LONDON, iNews.id - Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari, mengagetkan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) karena mereka justru menjadi sasaran pembalasan dari Teheran. Bahkan, mereka mendapat lebih banyak serangan rudal dan drone.

Negara-negara Teluk tidak terlibat dalam serangan mendadak tersebut, bahkan AS dan Israel tidak berkonsultasi lebih dulu kepada mereka. Namun, hanya sehari berselang, pada 1 Maret, enam negara GCC sudah digempur Iran.

Laporan lembaga riset berbasis di Washington, Stimson Center, yang dirilis Rabu lalu menyebut konflik AS-Israel-Iran yang kini memasuki pekan keempat, telah berkembang menjadi perang yang mengerikan dan terus meningkat. Kondisi ini tidak diinginkan oleh satu pun negara-negara teluk.

Parahnya, sejak awal terlihat erangan Iran lebih banyak menyasar infrastruktur sipil, bukan pangkalan militer AS yang diklaim sebagai target utama. Pada hari pertama, rudal Iran atau puing dari sistem pencegat telah menghantam Bandara Dubai, hotel ikonik Burj Al-Arab, Pelabuhan Jebel Ali, hingga kawasan Palm Jumeirah. 

Hari itu, Iran meluncurkan 137 rudal dan 209 drone ke Uni Emirat Arab. Serangan itu jelas-jelas merupakan upaya untuk merusak reputasi UEA sebagai pusat pariwisata, bisnis, dan investasi yang aman. Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar juga langsung menjadi sasaran sejak hari-hari pertama perang AS-Israel vs Iran.

Iran memang mengklaim hanya menargetkan fasilitas militer yang terkait dengan AS. Namun dalam hari-hari dan pekan berikutnya, pola serangan terhadap infrastruktur sipil semakin jelas terlihat. Di Arab Saudi, target mencakup kilang minyak Ras Tanura, fasilitas Aramco, hingga ladang minyak Shaybah.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan sejumlah drone yang mengarah ke Riyadh berhasil dicegat.

"Saya baru saja keluar bersama anak kecil saya ketika tiba-tiba terdengar ledakan. Orang-orang di sekitar kami melihat ke langit, mencoba memahami apa yang terjadi. Ini bukan sesuatu yang Anda bayangkan terjadi di Riyadh," kata seorang warga Yordania di Riyadh kepada AFP pada 28 Februari. 

Serangan itu memang di luar dugaan. Bukan hanya bagi warga, tetapi juga pemerintah negara-negara teluk, yang merasa tidak memiliki peran dalam konflik tersebut.

Bahkan, Oman yang sebelumnya memediasi pembicaraan positif antara Iran dan AS sebelum pecahnya konflik, turut menjadi sasaran. Sejak 3 Maret, sejumlah serangan menghantam infrastruktur minyak dan fasilitas sipil di negara itu.

Data terbaru menunjukkan betapa timpangnya beban yang harus ditanggung negara-negara Teluk dalam perang yang tidak mereka mulai dan tidak mereka kehendaki.

Sejak 28 Februari, negara-negara GCC telah menerima 4.391 serangan rudal dan drone Iran. Ini setara 83 persen dari total serangan. Sebaliknya, Israel yang memulai perang dan melancarkan serangan harian ke Iran selama sebulan terakhir, hanya menjadi target 930 rudal dan drone atau sekitar 17 persen dari total.

Ketimpangan ini memunculkan pertanyaan besar, apa sebenarnya motif Iran?

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut