Takbir, tahmid dan tahlil bergema dengan syahdu, membawa kita kepada suasana kebahagian namun juga membawa nuansa keharuan, bahkan kesedihan. Kita bahagia, karena telah berhasil memenangkan peperangan terbesar yaitu melawan hawa nafsu sebagai markasnya syetan yang terkutuk, yaitu dengan melaksanakan puasa Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan.
Namun kita menjadi sedih, karena hari ini merupakan saat perpisahan dengan Ramadhan, bulan yang kedatangannya selalu kita rindukan. Keharuan ini semakin bertambah ketika hati kita bertanya-tanya "Apakah kita masih sempat bertemu kembali dengan Ramadhan yang akan datang? Apakah masih diberi kesempatan umur panjang dan berapa banyakkah amal ibadah yang kita persiapkan jika kita dipanggil menghadap kepada-Nya?"
Kita pun terkenang dengan orang tua, istri, anak, saudara, dan teman-teman yang pada hari ini tidak bersama-sama kita dalam merayakan kebahagiaan ini. Jika melihat keadaan kita saat ini, di tempat ini, maka hati semakin sedih, karena pada hari yang seharusnya membahagiakan ini ternyata kita terpaksa merayakannya dengan keadaan yang tidak merdeka, yakni di Rumah Tahanan ini.
Namun hadirin, keadaan seperti ini seharusnya masih membuat kita tetap bersyukur, karena banyak dari saudara-saudara kita yang ternyata merayakan hari besar ini di pengungsian akibat perang, atau di penampungan akibat bencana alam atau jadi korban penggusuran bahkan ada pula yang berada di antara hujanan peluru dan bom yang mengerikan.
Semoga Allah SWT memberikan mereka kekuatan iman dan memberikan jalan. demi cepat berlalunya segala musibah penderitaan ini. Amin ya Robbal 'Alamin.