Sabar terhadap perintah Allah dapat diwujudkan dalam tiga tahapan. Sabar sebelum memulai pekerjaan, sabar saat melaksanakannya dan sabar ketika selesai mengerjakannya. Sebelum melakukan sebuah pekerjaan, kita dituntut untuk meluruskan niat dan melepaskan diri dari noda-noda riya Tanpa membebaskan diri dari dua jeratan itu, mustahil ridha Allah bisa dicapai. Allah berfirman:
إلا الذين صبروا وعملوا الصَّالِحَاتِ أُولك لهم مَغْفِرَةً وَأَجْرٌ كبير ... (هود : ۱۱)
Artinya: "kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar."
Setelah melepaskan diri dari jerat riya' dan sum'ah, saat melakukan ketaatan hendaklah dilaksanakan dengan sempurna, sesuai dengan syariat yang ditentukan Allah subhanahu wa ta'ala. Kemudian, usai melakukan suatu pekerjaan, campakkan sifat ujub (bangga diri), sehingga apa yang telah dikerjakan tidak sia-sia begitu saja.
Sungguh, kita membutuhkan sifat sabar dalam segala kondisi. Seorang Muslim tidak bisa melaksanakan ibadah dengan benar tanpa kesabaran yang penuh. Siapa pun tidak mungkin mampu hidup tenang kala mendapat cobaan musibah, tanpa kesabaran. Karena, takdir yang ditentukan Allah terhadap hamba-Nya tak mungkin bisa dihindari. Hanya dengan kesabaran itulah semuanya bisa dinikmati. Hanya dengan kesabaran dan ketakwaanlah, keberuntungan bisa diraih.