Khutbah Jum'at tentang Taubat sebelum Terlambat
Hadirin sidang shalat Jum’at yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala.
Kedua, bersedia memutar arah, kembali meniti jalan yang benar. Taubat bisa diwujudkan dalam diri seseorang jika dia, dengan rendah hati, bersedia berjalan kembali ke arah yang benar.
Memang taubat akan selalu menemui halangan dan hambatan. Bisa jadi, cibiran dan cemoohan masyarakat hadir menyertai perjalanan taubatnya. Bahkan yang lebih menyakitkan, lingkungan baru yang ingin dia masuki, terkadang menunjukkan sikap penolakan. Semua itu harus dilalui bagi orang yang hendak sungguh-sungguh bertaubat.
Itulah yang dialami Nabi Adam ‘alaihissalam ketika berjalan menuju taubatnya; dibuang dari surga, berjalan tertatih-tatih di dunia dan terpisah dari isteri tercinta. Sampai akhirnya Allah-pun menerima taubatnya.
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى