“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” [Quran Al-Insan: 8-9]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ .
“Sungguh tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan niat untuk mencari wajah Allah (ridho-Nya), melainkan engkau diberi pahala karenanya. Sampai pun sesuatu yang engkau suapkan ke mulut isterimu.” [HR. al-Bukhari (no. 1295) dan Muslim (no. 1628), dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu].
Yaitu sampai pun nafkah yang engkau berikan kepada istrimu, engkau juga akan mendapatkan pahala karena melakukannya. Dengan syarat menghadirkan niat berharap pahala dari Allah.
Kemudian yang berikutnya adalah rutin berpuasa. Yaitu seseorang memperbanyak puasa sunnah dalam setahunnya. Jangan membatasi diri puasa hanya di bulan Ramadhan saja. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan banyak berpuasa. Beliau pernah berpuasa sunnat dalam satu bulan sampai seakan tidak pernah tidak berpuasa di bulan tersebut. Terkadang juga dalam satu bulan beliau sedikit sekali berpuasa, seolah tidak berpuasa sama sekali di bulan tersebut.