"Contoh yang klasik, kami ada 12 golongan kendaraan harganya beda-beda, kalau orang masuk loket golongannya misalnya harganya Rp2 juta terus tadi ada yang tadi mengamankan truk ada petugas loket bilang gini 'eh jangan yang tarif Rp2 juta dong, turunin aja Rp1,7 juta aja,' itu kemarin-kemarin terjadi," tuturnya.
Menurut Ira, sistem manual memungkinkan adanya petruk sehingga pendapatan ASDP tergerus. Oleh karena itu, dia telah memulai pembayaran nontunai sejak 15 Agustus 2018.
Dia menyebut, pendapatan ASDP pada momen Lebaran atau Tahun baru bisa mencapai Rp5-Rp8 miliar per hari. Angka sebesar itu, menurut dia, rawan bocor jika menggunakan sistem manual.
"Jadi, kalau Lebaran teman-teman bisa bayangin selama satu hari di loket pelabuhan ada uang cash beredar antara Rp5-8 miliar dalam satu hari, ini bukan bank loh, kalau bank segitu normal. Ini di pelabuhan, sistemnya belum digital masih sangat manual dan pakai orang bank. Kebayang tidak dampak bocornya bagaimana," tutur Ira.
Editor: Rahmat Fiansyah