JAKARTA, iNews.id - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menerapkan pembayaran nontunai untuk pembelian tiket. Sistem tersebut diterapkan di empat pelabuhan utama.
Empat pelabuhan itu masing-masing Pelabuhan Merak, Bakauheni, Ketapang, dan Gilimanuk. Semua pelabuhan tersebut menjadi rute tergemuk di antara total 245 rute yang dilayani BUMN pelayaran tersebut.
Inflasi Tahunan Februari 2026 Diproyeksi Naik di Kisaran 3,64-3,92 Persen
Direktur Utama ASDP Ira Puspadewi mengatakan, digitalisasi pembayaran ini menjadi salah satu strategi transformasi ASDP. Penerapan pembayaran nontunai di empat pelabuhan itu hanya langkah awal sebelum diterapkan di semua pelabuhan yang dilayani ASDP.
"Kenapa di empat pelabuhan itu? yang paling besar 50 persen pendapatan (ASDP) dari empat pelabuhan ini, 70 persen laba juga dari pelabuhan ini. Jadi, kita amankan dulu dari pelabuhan ini. Kalau teman-teman ke sana saat ini kita hampir 100 persen cashless," ujar Ira di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (6/2/2020).
Ira mengakui kebijakan ini diterapkan untuk menekan korupsi. Dia menyinggung fenomena petruk alias pengurus truk di Pelabuhan Merak yang disebutnya membuat banyak karyawan ASDP ikut-ikutan tidak bersih.
"Contoh yang klasik, kami ada 12 golongan kendaraan harganya beda-beda, kalau orang masuk loket golongannya misalnya harganya Rp2 juta terus tadi ada yang tadi mengamankan truk ada petugas loket bilang gini 'eh jangan yang tarif Rp2 juta dong, turunin aja Rp1,7 juta aja,' itu kemarin-kemarin terjadi," tuturnya.
Menurut Ira, sistem manual memungkinkan adanya petruk sehingga pendapatan ASDP tergerus. Oleh karena itu, dia telah memulai pembayaran nontunai sejak 15 Agustus 2018.
Dia menyebut, pendapatan ASDP pada momen Lebaran atau Tahun baru bisa mencapai Rp5-Rp8 miliar per hari. Angka sebesar itu, menurut dia, rawan bocor jika menggunakan sistem manual.
"Jadi, kalau Lebaran teman-teman bisa bayangin selama satu hari di loket pelabuhan ada uang cash beredar antara Rp5-8 miliar dalam satu hari, ini bukan bank loh, kalau bank segitu normal. Ini di pelabuhan, sistemnya belum digital masih sangat manual dan pakai orang bank. Kebayang tidak dampak bocornya bagaimana," tutur Ira.
Editor: Rahmat Fiansyah