Menabur Benih Energi Hijau, Siasat Pertamina Atasi Krisis Udara Bersih di Jabodetabek
“Ini (JIGT) akan multi product karena mencakup (BBM) konvensional dan green product mulai dari Gasoline, Fuel Oil yang standar, kemudian masuk kepada Biodiesel, FAME, LPG, LNG, Ammonia, Using Cooking Oil atau UCO, dan Hydrogen Fuel dan akan dibangun secara modular,” ujar dia.
Untuk melayani energi bersih di Jabodetabek, kata Tiko, Pertamina meningkatkan kapasitas pencampuran (blending) dan tangki minyak di Jakarta Integrated Green Terminal. Setelah itu akan didistribusikan ke pasaran. Menurutnya, langkah ini berupa layanan dasar yang dilakukan BUMN minyak dan gas bumi (migas) untuk mencapai target netral karbon di waktu mendatang.
TBBM baru milik perusahaan migas negara beroperasi secara bertahap. Fase pertama atau periode 2027-2035, Pertamina membangun dan mengoperasikan storage BBM, fase kedua difokuskan pada storage LNG, FAME, dan UCO yang direalisasikan pada 2035-2040, pada fase ketiga atau 2040 dibangun storage Hidrogen
“Transisi energi tadi jadi kunci bahwa Pertamina harus menyiapkan, kita tahu kebutuhan green energy yang lebih ramah lingkungan untuk Jabodetabek. Selama beberapa hari terakhir atau berapa minggu terakhir banyak kita bicarakan mengenai polusi udara di Jakarta, tentunya ada salah satu langkah awal bagaimana Pertamina menyediakan biofuel yang bisa menurunkan emisi di Jabodetabek,” ucapnya.
Tak hanya itu, JIGT nantinya menjadi gerbang perdagangan energi melalui koridor Singapura-Indonesia yang memiliki porsi 30-35 persen dari alur perdagangan global untuk minyak dan LNG.