Menabur Benih Energi Hijau, Siasat Pertamina Atasi Krisis Udara Bersih di Jabodetabek
Tiko, sapaan akrab Kartika mengatakan, Jakarta Integrated Green Terminal merupakan infrastruktur BBM yang sangat strategis untuk pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) ke depan. Di sisi kapasitas, JIGT tiga kali lebih besar dari Terminal Bahan Bakar Minyak di Plumpang, Jakarta Utara, karena memiliki daya tampung mencapai 6,3 juta barel. Jumlah itu memungkinkan Pertamina bisa memenuhi pasar bahan bakar rendah karbon dan secara perlahan menggantikan konsumsi BBM fosil di masa mendatang.
Kemampuan produksi dan penampungan JIGT ikut memperkuat posisi TBBM Plumpang, tulang punggung infrastruktur BBM di Jawa bagian barat saat ini. Namun berbeda dengan TBBM Plumpang yang didominasi sumber energi fosil, Jakarta Integrated Green Terminal mengutamakan BBM hijau sebagai produk unggulan, di samping dikelola secara ramah lingkungan pula.
Pada tahap awal, JIGT dapat menampung 4,4 juta barel bahan bakar green dan sebagian kecilnya merupakan BBM konvensional. Namun, jumlahnya terus diperluas hingga 6,3 juta barel.
Tiko menyebut JIGT akan memproduksi dan menampung Gas Alam Cair (LNG), Fatty Acid Methyl Esters (FAME), Used Cooking Oil (UCO), Hydrogen, Ammonia, dan Petrokimia. Inilah jenis-jenis sumber energi bersih yang paling akseleratif untuk mengejar target renewable energy atau energi baru terbarukan di dalam negeri.
Di samping itu, beberapa jenis energi konvensional juga masih dimanfaatkan Pertamina sebagai sumber energi sementara karena Indonesia dalam masa transisi. Bagi pemerintah, selama transisi menuju NZE pada 2060 atau lebih cepat, minyak dan gas memainkan peran penting untuk mengamankan pasokan energi nasional, khususnya di bidang transportasi dan pembangkit listrik.