Sedangkan dalam prasasti kedua, terdapat gambar sepasang telapak kaki gajah dan pada prasasti itu terdapat tulisasn yang berisi “jayavi shãlasya tãrumnendrasya hastinah airãvatãbhasya vibhãtidam padadvayam”. Artinya, “Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa).
Tarusbawa berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa. Dia jeli melihat pamor Kerajaan Tarumanagara mulai memudar. Karena itu, Tarusbawa ingin sekali mengembalikan kejayaan dan keharuman seperti masa Purnawarman yang bekedudukan di Purasaba (ibu kota) Sundapura.
Pada 670 Masehi, Tarusbawa mengganti Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Penggantian nama itu membuat Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh memisahkan diri dari kekuasaan Kerajaan Sunda yang dipimpin Tarusbawa.
Wretikandayun adalah seorang putra Galuh menikah dengan seorang Putri bernama Parwati. Parwati adalah seorang putri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga (sebuah kerajaan di Jawa Tengah). Dengan dukungan Kerajaan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Kerajaan Tarumanagara dibagi menjadi dua bagian.
Tarusbawa yang sedang dalam keadaan lemah dan tidak ingin terjadi perang saudara, maka dia memenuhi tuntutan Wretikandayun. Pada 670 Masehi, bekas wilayah kekuasaan Tarumanagara dipecah menjadi dua di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda dan Galuh.