Tujuan Ngaben adalah membakar jenazah maupun simbolisnya kemudian menghanyutkan abu ke sungai atau laut yang memiliki makna untuk melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan.
Pengerupukan adalah salah satu tahapan pelaksanaan Hari Raya Nyepi untuk mengusir Bhuta Kala dari rumah, pekarangan dan sekitarnya. Bhuta Kala merupakan salah satu bentuk ekspresi karakter buruk umat Hindu di lingkungan sekitar.
Pada kegiatan ini, masyarakat Bali akan membuat keributan dengan cara memukul benda-benda keras, membakar boneka besar yang disebut Ogoh-Ogoh yang melambangkan kejahatan, dan mengusir roh jahat. Ini adalah cara untuk membersihkan energi negatif sebelum memasuki tahun baru.
Selain sebagai momen pembersihan dan persiapan untuk menyambut tahun baru, Pengerupukan memiliki makna simbolis yang mendalam. Pengusiran roh-roh jahat melalui ogoh-ogoh dan pembakaran api diartikan sebagai cara untuk membersihkan lingkungan dan jiwa dari gangguan spiritual serta memberikan kesegaran dan awal yang baru.
Melasti adalah salah satu upacara penting dalam tradisi agama Hindu di Bali. Upacara Melasti biasanya dilakukan di pinggir pantai Melasti sebelah selatan Pulau Bali dengan tujuan untuk mensucikan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu dan membuangnya ke laut.