Dia menjelaskan pada semester 1 tahun 2023 pihaknya melihat kecenderungan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah ekspor tidak akan banyak berbeda. Berdasarkan data hingga Juni 2023 yang diolah BRiNST dari Kementerian Perdagangan, ekspor timah dari Indonesia mencapai 31.876,56 MT.
“Sebagian besar ekspor tersebut berasal dari smelter swasta. Pada semester 1 tahun 2023 PT Timah Tbk selaku pemilik konsesi terbesar di Indonesia mengekspor 8.307 MT timah, sedangkan smelter swasta mengekspor 23.570 MT,” ucapnya.
Dia menuturkan berdasarkan riset dan observasi lapangan BRiNST, RKAB yang dikeluarkan perlu dilakukan evaluasi. Penerbitan RKAB tentunya harus berdasarkan pada tahapan eksplorasi yang benar.
“Sehingga bisnis pertambangan yang adil dan bertanggung jawab dapat terwujud di Bangka Belitung,” tuturnya.
Berdasarkan data yang dipublis oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia, kata dia, ekspor timah mengalir deras dari perusahaan smelster timah yang hanya memiliki wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) di bawah 10.000 hektare dan bahkan ada yang di bawah 1.000 hektare.