"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat berpresentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag," lanjut unggahan tersebut.
Tak hanya soal identitas, materi penelitian yang dipresentasikan juga diduga palsu. Sejumlah data penelitian disebut merupakan hasil fabrikasi menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di-generate AI, gambar, dan tulisannya juga," tulis Mandhara.
Kecurigaan semakin menguat setelah peserta konferensi menelusuri detail penelitian yang dipresentasikan. Setidaknya tiga nama disebut menjadi pusat perhatian dalam dugaan kasus tersebut, yakni Prihantini atau Titin, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.
Salah satu kejanggalan yang paling disorot adalah lokasi penelitian yang tercantum dalam manuskrip. Kelompok peneliti itu disebut mencantumkan lokasi riset di Peruvian Andes, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara tanpa adanya kolaborator lokal maupun keterangan persetujuan etik penelitian.