Temuan tersebut kemudian memicu kekhawatiran di kalangan akademisi karena dinilai dapat merusak kredibilitas peneliti Indonesia di forum internasional.
"Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan," tulis Mandhara.
Dalam unggahan yang sama, dia juga menduga motif utama para pelaku adalah untuk mendapatkan travel grant atau dana perjalanan ke luar negeri secara gratis melalui presentasi penelitian fiktif di forum ilmiah internasional.
"Saat ini, ilmuwan Indonesia di tingkat dunia sangat sedikit jumlahnya. Dengan kejadian ini, akan semakin sulit lagi," lanjutnya.
Kasus ini semakin ramai diperbincangkan setelah muncul dugaan pencantuman nama anggota keluarga dalam manuskrip penelitian. Nama Elfiany Syafruddin dan Sahnaz disebut dicantumkan sebagai co-peneliti meski diduga bukan bagian dari institusi yang tercantum dalam afiliasi penelitian tersebut.