Sampah Datang, Spanduk Bertindak: Ketika Doa dan Amarah Bersatu Demi Lingkungan

Yunaldi Libra
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta, Yunaldi Libra. (Foto: Istimewa)

Peran emosi dalam pesan-pesan tersebut juga tak kalah penting. Spanduk yang memuat pesan menyentuh seperti “Kalau Buang Sampah di Sini, Saya Doakan Miskin 7 Turunan,” membangkitkan rasa malu dan bersalah. Hal tersebut sesuai dengan teori komunikasi afektif yang sangat efektif dalam mempengaruhi perilaku (Rust et al., 2015).

Tantangan terhadap Sistem Pengelolaan Sampah

Keberadaan spanduk ini menyiratkan kritik terhadap sistem pengelolaan sampah formal yang dianggap tidak memadai. Warga yang membuat dan memasang spanduk seringkali melakukannya karena merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari pihak berwenang. Kondisi inilah yang membuat masyarakat mengambil alih peran pengawasan, penyuluhan, dan bahkan "penegakan hukum sosial" dengan cara mereka sendiri.

Dalam analisis sosial, hal ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam sistem komunikasi resmi. Masyarakat menciptakan saluran alternatif, ketika saluran formal gagal menyampaikan pesan yang efekti. Saluran komunikasi alternatif yang lebih sesuai dengan konteks lokal dan lebih menyentuh hati khalayak, menjadi kekuatan media komunitas dalam krisis komunikasi publik.

Lokalitas dan Budaya Visual

Spanduk protes larangan buang sampah yang muncul di berbagai daerah juga mencerminkan karakter lokal. Di Bantul, gambar pocong dijadikan sebagai simbol horor untuk menakuti pembuang sampah. Di Jember, warga menggunakan nada sindiran lokal. Ini menunjukkan bahwa media lokal sangat kaya secara visual dan budaya. Simbol dan pesan yang digunakan menjadi efektif karena tidak dilepaskan dari konteks budaya dan bahasa lokal. (Kress & van Leeuwen, 2006).

Selain berfungsi sebagai alat komunikasi spanduk juga artefak budaya. Spanduk  menggambarkan bagaimana masyarakat menegosiasikan nilai-nilai ekologis dengan cara mereka sendiri. Melalui media sederhana tersebut masyarakat menunjukkan kreativitas luar biasa dalam menyampaikan pesan dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Editor : Aditya Pratama
Artikel Terkait
57 tahun lalu

8 Warga Kena OTT gegara Buang Sampah Sembarangan di Jaksel, Didenda Rp500.000

57 tahun lalu

MNC University dan Universitas Bina Darma Gelar Seminar Komunikasi Antarbudaya Internasional

57 tahun lalu

Pramono Setuju Ciangir Jadi Lokasi Penampungan Kompos, Yakin 9.000 Ton Sampah Tertangani

57 tahun lalu

Warga Pondok Kelapa Jaktim Olah Sampah dengan Biopori, Pramono: Semoga Wilayah Lain Iri

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal