Yunaldi Libra
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta
WARGA Perumahan Bukit Pesanggerahan Indah 2, Bojonggede, Bogor, memilih melawan dengan cara yang unik untuk melawan gempuran sampah yang kian merajalela. Mereka memasang spanduk berisi sumpah serapah dan doa kutukan bagi pembuang sampah sembarangan. Terkesan lucu memang, tapi inilah salah satu potret nyata keputusasaan yang dijadikan alat perlawanan ekologis oleh masyarakat.
Kita sering melihat spanduk larangan buang sampah di mana-mana. Warga perumahan yang berlokasi di desa ragajaya ini, menulis narasi yang mampu membuat pembacanya tertegun.
“Demi Allah Saya Ikhlas, Anak Cucu Saya 7 Turunan Akan Menderita dan Sakit Berkepanjangan Jika Saya Buang Sampah di Sini.”
Narasi ini tentunya bukan kalimat dalam ceramah agama atau naskah yang diucapkan aktor dalam drama sinetron. Narasi “keras”ini adalah pesan warga yang ada di spanduk, yang dipasang di pinggir jalan tempat tumpukan sampah "kiriman" biasa bersarang. Bukan hanya di Bojonggede, fenomena serupa muncul di banyak kota. Di Bantul ada gambar pocong, di Jember ada ancaman “miskin tujuh turunan”, dan di Sukabumi tertulis “Hanya Monyet yang Buang Sampah Sembarangan”.
Spanduk-spanduk unik tersebut merupakan cerminan suara hati masyarakat yang sudah jengah, muak, dan marah. Tapi di sisi lain, mereka tidak pasrah begitu saja. Mereka melawan. Bukan dengan cara kekerasan, tapi dengan komunikasi yang menyentuh, bahkan menggelitik.