Sampah Datang, Spanduk Bertindak: Ketika Doa dan Amarah Bersatu Demi Lingkungan

Yunaldi Libra
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta, Yunaldi Libra. (Foto: Istimewa)

Yunaldi Libra
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta

WARGA Perumahan Bukit Pesanggerahan Indah 2, Bojonggede, Bogor, memilih melawan dengan cara yang unik untuk melawan gempuran sampah yang kian merajalela. Mereka memasang spanduk berisi sumpah serapah dan doa kutukan bagi pembuang sampah sembarangan. Terkesan lucu memang, tapi inilah salah satu potret nyata keputusasaan yang dijadikan alat perlawanan ekologis oleh masyarakat.

Kita sering melihat spanduk larangan buang sampah di mana-mana. Warga perumahan yang berlokasi di desa ragajaya ini, menulis narasi yang mampu membuat pembacanya tertegun.

“Demi Allah Saya Ikhlas, Anak Cucu Saya 7 Turunan Akan Menderita dan Sakit Berkepanjangan Jika Saya Buang Sampah di Sini.”

Spanduk larangan buang sampah di Perumahan Bukit Pesanggerahan Indah 2, Bojonggede, Bogor. (Foto: Dok. Yunaldi Libra)

Narasi ini tentunya bukan kalimat dalam ceramah agama atau naskah yang diucapkan aktor dalam drama sinetron. Narasi “keras”ini adalah pesan warga yang ada di spanduk, yang dipasang di pinggir jalan tempat tumpukan sampah "kiriman" biasa bersarang. Bukan hanya di Bojonggede, fenomena serupa muncul di banyak kota. Di Bantul ada gambar pocong, di Jember ada ancaman “miskin tujuh turunan”, dan di Sukabumi tertulis “Hanya Monyet yang Buang Sampah Sembarangan”.

Spanduk-spanduk unik tersebut merupakan cerminan suara hati masyarakat yang sudah jengah, muak, dan marah. Tapi di sisi lain, mereka tidak pasrah begitu saja. Mereka melawan. Bukan dengan cara kekerasan, tapi dengan komunikasi yang menyentuh, bahkan menggelitik.

Editor : Aditya Pratama
Artikel Terkait
57 tahun lalu

8 Warga Kena OTT gegara Buang Sampah Sembarangan di Jaksel, Didenda Rp500.000

57 tahun lalu

MNC University dan Universitas Bina Darma Gelar Seminar Komunikasi Antarbudaya Internasional

57 tahun lalu

Pramono Setuju Ciangir Jadi Lokasi Penampungan Kompos, Yakin 9.000 Ton Sampah Tertangani

57 tahun lalu

Warga Pondok Kelapa Jaktim Olah Sampah dengan Biopori, Pramono: Semoga Wilayah Lain Iri

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal