Menurut Menkes Budi, persoalan kesehatan mental pada anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pribadi. Lingkungan sekitar, mulai dari keluarga, pertemanan, hingga suasana belajar di sekolah, turut berperan besar terhadap kondisi psikologis anak.
"Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kami perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik," ujarnya.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Kemenkes menargetkan perluasan skrining melalui Program CKG agar dapat menjangkau hingga 25 juta anak di seluruh Indonesia. Hasil skrining nantinya akan ditindaklanjuti oleh fasilitas layanan kesehatan, terutama Puskesmas.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengatakan saat ini pemerintah juga berupaya memperkuat layanan kesehatan mental di tingkat layanan dasar. Salah satunya dengan mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih sangat terbatas, yakni sekitar 203 orang di seluruh Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga menyiagakan layanan krisis kesehatan jiwa melalui platform Healing119.id untuk memberikan bantuan cepat bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan psikologis.