Setelah Gon mengetahui bahwa Yoonjae tidak akan pernah merubah ekspresinya, Gon semakin kesal dan merasa tertantang untuk mencari tahu lebih dalam tentang Yoonjae. Beberapa interaksi yang terjadi diantara keduanya membuat mereka semakin dekat, dengan berbagai perbedaan dan juga persamaan yang dimiliki, mereka berhasil memberikan pelajaran hidup bagi dirinya masing-masing.
Walaupun keduanya dijuluki “monster” oleh siswa lain, namun persamaan itu lah yang membuat mereka cocok. Menjelang akhir cerita, penulis juga mendatangkan sosok baru yang membuat kehidupan Yoonjae semakin berwarna. Banyak perubahan yang terjadi dalam diri Yoonjae, namun ia sendiri tidak tahu apakah perubahan tersebut mengarah pada hal baik atau buruk.
Analisis
Novel ini memiliki banyak pelajaran hidup secara tersurat maupun tersirat yang dapat pembaca ambil. Seringkali kita menyepelekan emosi yang timbul dalam diri, namun bagaimana dengan orang yang tidak mampu mengutarakan perasaannya dalam bentuk emosi? Setiap peristiwa yang ditampilkan menyadarkan pembaca akan pentingnya empati dan bersyukur.
Dengan latar belakang psikologis, penjelasan mengenai suatu penyakit tersebut sukses memberi wawasan baru dan sudut pandang baru. Terbitnya novel Almond juga bisa membuat masyarakat semakin aware terhadap Alexythimia. Penggunaan sudut pandang pertama membuat pembaca semakin bisa memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh Yoonjae sebagai pengidap Alexythimia.
Bahasa yang digunakan juga ringan dan konflik yang disajikan pas sehingga membentuk kombinasi yang sempurna untuk novel ini. Selain itu, penulis mampu menggambarkan dengan jelas suasana Korea Selatan sebagai latar belakang tempat cerita ini sehingga pembaca bisa dengan mudah membayangkan setiap adegannya.