Analisis
Buku ini memberi banyak inspirasi, banyak ilmu-ilmu yang tidak diajarkan di sekolah maupun di kampus. Selain fokus pada kekuatan dan passion yang harus dimiliki seorang alpha girl, penulis juga melengkapi pembahasannya dengan sisi buruk seorang alpha girl yang harus dikendalikan. Penggunaan bahasa yang santai, terdapat beberapa lelucon, membuat The Alpha Girls Guide mudah dimengerti karena disertai dengan analogi dan contoh yang relevan dengan kehidupan kita.
Evaluasi
Buku non fiksi ini memiliki banyak kelebihan. Selain cover yang menarik, setiap babnya dikemas dengan rapi dan saling berhubungan dengan bab selanjutnya. Terdapat beberapa footnote yang bisa ditelusuri sumbernya. Buku ini juga menghadirkan wawancara dengan wanita Indonesia yang inspiratif. Sayangnya, ukuran huruf atau font-nya terlalu kecil dan terdapat kutipan bahasa Inggris yang tidak disertai artinya.
Identitas
Judul : “Gundala”
Sutradara: Joko Anwar
Durasi : 123 menit
Tanggal Rilis: 2019
Pemain: Abimana Aryasatya, Tara Basro, Lukman Sardi, Bront Palarae, dll.
Orientasi
Gundala menjadi gerbang pembuka perjalanan cerita jagat sinema Bumilangit. Gundala diadopsi dari komik pahlawan super ‘Gundala Putra Petir yang dibuat tahun 1969 oleh Harya Suraminata atau yang akrab disapa Hasmi. Film ini dihiasi dengan konflik seputar kemanusiaan, percintaan, kesenjangan sosial, dan politik yang relevan dengan situasi saat ini.
Sinopsis
Gundala menceritakan seorang yang bernama Sancaka yang tanpa ia sadari memiliki kekuatan super, kekuatan yang dimiliki adalah kekuatan petir yang didapatkannya akibat tersambar petir. Pada awal cerita, film ini mengisahkan sancaka kecil yang diperankan oleh (Muzaki Ramadhan) yang harus bertahan hidup sendiri di jalanan. Ayah Sancaka (Rio Dewanto) telah meninggal dunia dikarenakan menuntut keadilan di tempat ia bekerja, ayahnya sebagai buruh pabrik yang tidak mendapatkan perlakuan secara baik dan adil. Dan ia serta rekan-rekannya mengadakan demo, naasnya ayah Sancaka secara mengejutkan ditikam oleh orang yang tidak dikenal pada saat unjuk rasa. Selang setahun ibu Sancaka meninggalkan kota dan Sancaka untuk bekerja, namun tidak pernah kembali kerumah.
Dengan terpaksa Sancaka harus bertahan hidup dengan bekerja semampu kekuatan tubuh kecilnya. Ia juga berlatih pencak silat untuk membela diri. Singkat cerita, Sancaka (Abimana) tumbuh menjadi pria dewasa yang berprofesi sebagai satpam di sebuah pabrik percetakan koran. Ia tinggal disebuah rumah susun bersama tetangganya, Wulan (Tara Basro). Wulan merupakan tokoh heroik sebagai pembela pedagang-pedagang pasar yang tertindas akibat ketidakadilan.