Orang dewasa tidak pernah mengerti apa-apa sendiri, maka sungguh menjemukan bagi anak-anak perlu memberi penjelasan terus menerus.
Kutipan ini agaknya cukup mengusik. Ia memberi kesan bahwa orang dewasa memiliki kecenderungan banyak bertanya karena nihil pengetahuan. Namun, lewat cerita dari buku Le Petit Prince (Pangeran Kecil) ini kita diajak untuk merepresentasikan pengalaman masa kecil kita dalam sudut pandang yang berbeda. Dari bab pertama saja, pencerita sudah berkisah tentang mimpi masa kecilnya. Namun, pemikirannya yang lugu harus patah karena orang-orang dewasa dianggapnya mematahkan angannya. Orang dewasa yang digambarkan memberi nasihat itu, mengantarkan pencerita pada impian baru hingga membawanya memilih jalan hidup sebagai pilot.
Dalam perjalanannya sebagai seorang pilot, si pencerita kemudian bertemu dengan Pangeran Kecil berambut kuning. Pertemuan itu memberikan suatu pelajaran, bahwa betapapun tidak masuk akal, apabila sebuah keajaiban yang memukau terjadi, kita tidak berani membantah. Pun dengan perjumpaan keduanya, kemudian melahirkan cerita dan petualangan.
Sang Pangeran Cilik yang nampaknya banyak bertanya ini membawa pembaca kembali merenungi nilai-nilai dan pengalaman manusia yang paling dasar; tanggung jawab, cinta, ketergantungan, kekuasaan, dan ketulusan. Berbagai kisah luar biasa namun dengan metafora yang indah ini memberikan banyak pengalaman kehidupan. Misalnya saja, pengalaman Pangeran Cilik dengan sekuntum bunga yang pada akhirnya memberikan pembelajaran untuk tidak menilai seseorang atas dasar kata-kata semata, namun perlu memperhatikan perbuatannya.
Demikianlah, Pangeran Cilik kemudian berbagi kisah. Termasuk dari mana ia berasal, sebuah planet yang tidak lebih besar dari sebuah rumah. Bahkan, dari penamaan planet asal Sang Pangeran Cilik-Asteroid B612- ini, kita tersadar tentang fakta bahwa orang dewasa menyukai angka-angka. Selama bersama, Si Pencerita mengetahui sesuatu yang baru tentang Sang Pangeran Cilik.