Di akhir kisah ini, Si Anak yang sudah menjadi kakek-kakek meninggal dunia dan dikuburkan di dekat pohon apel itu.
Pada suatu malam yang indah, seorang putri tengah mengenakan topi dan bakiaknya. Ia pergi berjalan-jalan sendirian di hutan. Saat ia sampai di mata air dingin, ia kemudian duduk untuk beristirahat sebentar.
Ia memiliki mainan favorit berupa bola emas di tangannya. Ia melemparkannya begitu tinggi sehingga dia tidak bisa menangkapnya. Bola itu terbang pergi, berguling di atas tanah, hingga jatuh ke mata air.
Sang putri pun melihat bola yang masuk ke dalam aliran sungai tersebut, namun ia tidak bisa berbuat apapun karena air pada sungai tersebut sangatlah dalam. Ia pun merasa kehilangan, dan berkata, "Jika ada yang bisa mengambil bola milikku, aku akan memberikan semua pakaian dan perhiasan yang bagus, serta semua yang saya miliki di dunia," kata sang Putri.
Tiba-tiba, seekor katak mengeluarkan kepalanya dari air, dan berkata, "Putri, mengapa kamu menangis begitu sedih?" kata si Katak. "Katak, sayang! Apa yang bisa kamu lakukan untukku? Bola emasku jatuh ke sungai," kata Putri.