Menyusuri Jakarta dengan Mesin Waktu, Berwisata ke Masa Batavia

Reza Fajri
Papan petunjuk di Museum Bahari, Jakarta (foto: iNews.id/Reza Fajri)
Kawasan Museum Fatahillah, Kota Tua (foto: iNews.id/Reza Fajri)

Ketegangan antara VOC dan penguasa lokal terus meningkat hingga akhirnya pada 1619, Jan Pieterszoon Coen memimpin serangan terhadap Jayakarta. Kota lama dibakar dan dihancurkan. Di atas reruntuhannya, Belanda membangun kota baru bernama Batavia.

Nama Batavia diambil dari Batavieren, suku kuno yang dianggap nenek moyang bangsa Belanda.

Batavia dirancang menyerupai kota-kota di Eropa, terutama Amsterdam. Kanal-kanal digali membelah kota, sementara gudang rempah, kantor dagang, gereja, pasar, dan rumah pejabat VOC berdiri di sekitar pelabuhan.

Pada masa itu, Batavia dikenal sebagai kota perdagangan internasional yang sibuk sekaligus keras. Kapal dari berbagai penjuru dunia datang membawa gula, kopi, teh, kayu dan tekstil.

Namun di balik kemegahannya, Batavia juga terkenal tidak sehat. Kanal-kanal yang dibangun ala Belanda menyebabkan air tergenang di iklim tropis. Wabah malaria dan penyakit tropis kerap menyerang penduduk.

Editor : Reza Fajri
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Laba-Laba Hantu Pertama di Asia Tenggara Ditemukan di Pulau Jawa

57 tahun lalu

Tren Baru! Jelajahi Akulturasi Budaya China-Jawa di Semarang dengan Cara Tak Biasa

57 tahun lalu

Sejarah! Autumn Durald Arkapaw Jadi Wanita Pertama Memenangkan Best Cinematography untuk Film Sinners

57 tahun lalu

Era AI, Komdigi Sebut Data Budaya Jadi Harta Karun Baru!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal