Menyusuri Jakarta dengan Mesin Waktu, Berwisata ke Masa Batavia

Pada abad ke-17, VOC membangun tembok batu mengelilingi Batavia untuk melindungi pusat perdagangan mereka dari serangan musuh dan pemberontakan.
Tembok itu bukan hanya pertahanan militer, melainkan juga menjadi batas sosial. Di dalam tembok tinggal pejabat VOC dan pusat administrasi kolonial. Sementara di luar tembok hidup masyarakat pribumi, pekerja kasar, budak, dan komunitas pendatang dari berbagai etnis.
Kini sebagian besar tembok sudah hilang akibat perkembangan Jakarta modern.
Batavia: Amsterdam Baru di Pulau Jawa
Sejarah Batavia sendiri bermula jauh sebelum nama Jakarta dikenal dunia. Pada abad ke-16, kawasan muara Sungai Ciliwung menjadi pelabuhan penting yang disebut Sunda Kelapa. Pelabuhan ini menjadi titik pertemuan pedagang dari berbagai bangsa yang datang mencari rempah-rempah Nusantara.
Situasi berubah ketika bangsa Eropa mulai memburu jalur perdagangan rempah secara langsung. Pada 1596, armada Belanda di bawah Cornelis de Houtman tiba di Nusantara. Setelah VOC dibentuk pada 1602, Belanda mulai mencari pusat perdagangan strategis di Jawa.
Mereka melihat Jayakarta, nama baru Sunda Kelapa setelah direbut Fatahillah pada 1527, sebagai lokasi ideal. Letaknya berada di jalur perdagangan penting antara Maluku, Malaka, India, hingga Tiongkok.