"Sulit membayangkan, setiap kali memperoleh tanda tangan, saya harus mengeluarkan uang Rp50.000 sampai dengan Rp150.000. Misalkan untuk satu tanda tangan saya harus membayar Rp100.000, maka untuk satu proyek, saya harus mengeluarkan uang Rp15.400.000," katanya.
Bagi Kemal Idris, hambatan pungli yang dia alami sungguh kenyataan yang sangat ironis. Mentalitas pelaku pungli benar-benar sangat bobrok. Apalagi, perusahaannya tidak mengejar keuntungan yang berlebihan.
"Bahkan saya sendiri sebagai direktur tidak menuntut harus menerima gaji dari perusahaan. Misalnya saja, dalam dua tahun, perusahaan hanya memperoleh keuntungan lima juta rupiah dan hasil itu pun dimanfaatkan untuk semua kepentingan karyawan." katanya.
Karena kecewanya, Kemal Idris mengadukan soal dirinya yang dipungli kepada Presiden Soeharto. Dia menceritakan banyaknya hambatan yang dia alami.
"Suatu hari di bulan Desember 1993, dalam suatu pertemuan, saya bertemu dengan Pak Harto. Apa yang saya alami, saya sampaikan kepada Bapak Presiden," kata Kemal Idris.