Saat pertama kali membuka usaha pada 2013, Haidir hanya berjualan di pinggir jalan menggunakan lapak sederhana di trotoar depan Pasar Mayestik. Bahkan, dia mengaku kerap terkena penertiban oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
“Di trotoar situ sampai saya sering dikejar-kejar Satpol PP,” katanya.
Namun Haidir memilih bertahan. Dia sadar lokasi Mayestik memiliki potensi besar karena dikelilingi kawasan perkantoran dan ramai saat jam makan siang. Sedikit demi sedikit pelanggan mulai datang. Nama Sate Ayam Barokah Mayestik pun mulai dikenal.
Menurut Haidir, mempertahankan lokasi menjadi penting karena pelanggan biasanya sulit berpindah mengikuti tempat baru.
“Kalau misalnya disewa ke orang saya gak punya nama lagi di Mayestik. Mau pindah ke mana jualan. Soalnya kalau sudah punya nama, sudah punya langganan, nyari lagi susah. Jangankan pindah jauh, pindah dekat pun sudah berubah,” katanya.
Kesempatan besar datang saat Haidir ditawari menyewa ruko persis di belakang trotoar lokasi tempatnya biasa berjualan. Namun, harga sewanya sangat tinggi, mencapai Rp200 juta per tahun. Bagi Haidir, keputusan itu penuh risiko.